Warta Dinkes

Dinas Kesehatan Pastikan Layanan Imunisasi Tetap Buka Selama Pandemi Covid 19

Written by | Kamis, 09 Juli 2020 08:57
Rate this item
(0 votes)

Imunisasi Pada Bayi dan Balita Imunisasi Pada Bayi dan Balita

Saat bencana alam besar, bencana peperangan maupun wabah terjadi di suatu negara, selain perekonomian, sistem kesehatan adalah salah satu bidang yang akan terpukul telak; layanan kesehatan rutin termasuk pengobatan pasien dengan penyakit kronis, penyakit menular seperti HIV, TBC dan sebagainya maupun ketersediaan donor darah akan terganggu. Disamping itu, cakupan imunisasi rutin yang diwajibkan untuk anak balita (bawah lima tahun) akan menurun yang akan meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti TBC, polio, difteri dan campak.

Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat paling efektif dan efisien dalam mencegah beberapa penyakit berbahaya. Sejarah telah mencatat besarnya peranan imunisasi dalam menyelamatkan masyarakat dunia dari kesakitan, kecacatan bahkan kematian akibat penyakit-penyakit seperti Cacar, Polio, Tuberkulosis, Hepatitis B yang dapat berakibat pada kanker hati, Difteri, Campak, Rubela dan Sindrom Kecacatan Bawaan Akibat Rubela (Congenital Rubella Syndrom/CRS), Tetanus pada ibu hamil dan bayi baru lahir, Pneumonia (radang paru), Meningitis (radang selaput otak), hingga Kanker Serviks yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus.

Dalam imunisasi terdapat konsep Herd Immunity atau Kekebalan Kelompok. Kekebalan Kelompok ini hanya dapat terbentuk apabila cakupan imunisasi pada sasaran tinggi dan merata di seluruh wilayah. Kebalnya sebagian besar sasaran ini secara tidak langsung akan turut memberikan perlindungan bagi kelompok usia lainnya, sehingga bila ada satu atau sejumlah kasus Penyakitpenyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) di masyarakat maka penyakit tersebut tidak akan menyebar dengan cepat dan Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat dicegah. Konsep ini merupakan bukti bahwa program imunisasi sangat efektif juga efisien karena hanya dengan menyasar kelompok rentan maka seluruh masyarakat akan dapat terlindungi.

Dari sisi ekonomi, upaya pencegahan penyakit sejatinya akan jauh lebih hemat biaya, bila dibandingkan dengan upaya pengobatan. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) sebagian besarnya merupakan penyakitpenyakit yang bila sudah menginfeksi seseorang maka akan membutuhkan biaya pengobatan dan perawatan yang cukup tinggi yang tentunya akan membebani negara, masyarakat serta keluarga. Biaya yang dikeluarkan untuk program imunisasi sangat jauh lebih rendah dibandingkan total potensi biaya yang harus dikeluarkan bila masyarakat terkena PD3I.

Masa pandemi COVID-19 yang telah menjangkiti sebagian besar negara pun hendaknya tidak menyurutkan semangat tenaga kesehatan untuk tetap menggaungkan pentingnya imunisasi dan melakukan langkah-langkah penting untuk memastikan setiap anak yang merupakan kelompok rentan terlindungi dari penyakit-penyakit berbahaya dengan imunisasi. 
Pandemi COVID-19 yang hari ini telah menginfeksi lebih dari 7000 jiwa telah memberika beban besar di sistem kesehatan. Sumber daya Indonesia baik di bidang kesehatan maupun non-kesehatan telah banyak dialihfungsikan untuk penanganan COVID-19, termasuk pengalihan fungsi rumah sakit dan tenaga kesehatan untuk menangani COVID-19. Untuk memastikan sistem kesehatan tidak semakin terbebani dengan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, maka kita semua harus berperan aktif unutk memastikan anak-anak usia bawah lima tahun maupun usia sekolah tetap mendapatkan imunisasi rutin sesuai jadwal, selama pandemi COVID-19 berlangsung. Dalam masa pandemi COVID-19 Imunisasi sebaiknya tetap dilakukan dengan tetap mematuhi prinsip – prinsip pencegahan COVID-19 yaitu physical distancing, cuci tangan, menjaga kebersihan dan menggunakan masker.

Bagaimana sebaiknya pelaksanaan imunisasi dilakukan selama pandemi COVID-19?

1. Imunisasi rutin bisa dilakukan dengan cara kunjungan petugas Puskesmas ke masyarakat; ini adalah cara paling aman bagi ibu dan anak. Komunikasikan dengan kader posyandu di desa anda atau Puskesmas setempat mengenai kemungkinan ini; pastikan waktu kunjungan dan petugas akan mendatangi rumah penduduk sesuai dengan jadwal Posyandu atau imunisasi anak. Tetap terapkan keamanan dengan jaga jarak 1 -2 meter saat petugas berkunjung; ibu dan anak harus selalu menggunakan masker kain selama petugas imunisasi berada di rumah. Pastikan petugas mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer berbasis alkohol 70% saat pertama tiba di rumah atau sebelum melakukan imunisasi.
2. Apabila kunjungan rumah oleh petugas Puskesmas tidak memungkinkan, Imunisasi rutin disarankan dilakukan di puskesmas dengan membuat janji terlebih dahulu dengan staf imunisasi agar tidak terjadi penumpukan.
3. Ibu dan anak yang akan melakukan imunisasi, wajib:
a. Memastikan ibu dan anak tidak sedang memiliki gejala COVID-19 yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, penurunan fungsi indera penciuman, mata belekan, dan/atau sesak.
b. Jika salah satu dari ibu/anak memiliki gejala tersebut, imunisasi sebaiknya tidak dilakukan kecuali ibu dapat digantikan anggota keluarga lain yang tidak tinggal serumah.
c. Ibu dan anak wajib menggunakan masker sejak keluar rumah sampai tiba kembali di rumah.
d. Menjaga jarak setidaknya 1-2 m dengan orang di puskesmas.
e. Tidak melakukan kegiatan seperti diskusi atau ngerumpi selama proses imunisasi.
f. angsung pulang setelah proses imunisasi selesai.
g. Cuci tangan saat tiba maupun pulang dari puskesmas. Lepaskan alas kaki yang digunakan untuk keluar rumah; bila akan diletakkan dalam rumah pastikan untuk membersihkannya dengan air sabun terlebih dahulu.
4. Puskesmas yang melaksanakan imunisasi menyediakan dan mengatur tempat imunisasi dengan menggunakan prinsip jaga jarak 1 – 2 meter; detail sebagai berikut:
a. Memisahkan ruangan untuk imunisasi dengan ruangan periksa anak yang sakit.
b. Membuat jadwal antrian imunisasi sehingga ibu dan anak yang datang dapat dibatasi jumlahnya. Pengaturan jadwal dapat dilakukan bersama dengan kader posyandu setempat.
c. Menyediakan ruangan untuk imunisasi dengan cahaya dan ventilasi yang baik
d. Membersihkan area pelayanan imunisasi baik sebelum maupun sesudah pelayanan dengan cairan pembersih
e. Menyediakan kursi dan meja dengan memberi jarak 1-2 meter antar kursi.
f. Menyediakan tempat cuci tangan.
g. Sebelum prosedur imunisasi dilakukan, melakukan pemeriksaan kepada ibu dan anak mengenai gejala dan riwayat kontak terkait COVID-19.
h. Mewajibkan ibu dan anak yang datang menggunakan masker.
5. Petugas puskesmas/bidan yang akan melaksanakan imunisasi sebaiknya:
a. Menggunakan masker selama proses imunisasi
b. Tidak sedang memiliki gejala demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, penurunan fungsi indera penciuman, mata belekan, dan/atau sesak.
c. Melakukan pemeriksaan suhu sebelum melakukan imunisasi.
d. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan imunisasi.
6. Jika imunisasi di puskesmas tidak memungkinkan, maka:
a. Ibu mencari RS/klinik yang bisa melakukan imunisasi.
b. Melakukan koordinasi dengan petugas imunisasi di RS untuk membuat jadwal kunjungan imunisasi di RS.
c. Jika sudah mendapatkan jadwal kunjungan, memastikan ibu dan anak tidak sedang memiliki gejala COVID-19 yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, penurunan fungsi indera penciuman, mata belekan, dan/atau sesak
d. Ibu, anak, dan petugas harus selalu menggunakan masker selama proses imunisasi.

Read 169 times Last modified on Kamis, 09 Juli 2020 09:09
Andre Logo

Staff SubBag Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan Dinkes Kota Kupang

www.dinkes-kotakupang.web.id

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Mitra Dinkes

Situs Pemerintah Kota Kupang - NTT
Situs Resmi Pemerintah Kota Kupang - NTT
Bappeda Kota Kupang
Website Resmi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kupang
Puskesmas Pasir Panjang
Melayani dengan CERIA: Cepat,Empati, Ramah, Inovatif & Akurat
Puskesmas Kupang Kota
Profil & Kegiatan Puskesmas Kupang Kota
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Situs Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
SIKDA NTT
Website Resmi SIKDA NTT

Feedback

james faot
Sabtu, 01 September 2012 lalu, Kami mengundang Dinkes Kota Kupang sebagai salah satu na...
Bungsu
mantaappzz....!!!
crew perencanaan dinkeskot,,kereennzzz... (siapa dulu bosnya,, k len tu pasti, xixixi...